“Umik...” panggil Raihan membuyarkan keasyikanku yang sedang membaca obrolan WA grup alumni SMAku. “Ya? Ada apa sayang?” jawabku.
“Umik, kenapa umik koq suka sama bapak?”
tanyanya sambil asyik memainkan tobotnya. Aku yang tidak siap dan tidak
menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu terus terang merasa kaget dan
geli karena tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang sepele yang tak
pernah aku bayangkan akan keluar dari mulut seorang anak kecil yang belum
berusia 6 tahun itu. Ya pertanyaannya sepele memang namun sarat dengan makna,
dan akupun juga harus berhati-hati dalam menjawabnya dengan memakai bahasa yang
paling mudah dipahami dan dicerna oleh anak seusia dia.
Suamiku yang kebetulan
sedang sibuk membetulkan pesawat mainan dia yang macet dan duduk tidak jauh
dariku mendadak langsung melihat kepadaku sembari memelototkan matanya dan
menahan tawa karena juga tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang
simple, sepele namun sarat makna dari anak bungsu kesayangannya itu. Ya, Raihan
memang anak ketiga kami, namun suamiku sering menjulukinya anak bungsu karena
dia merasa sudah cukup puas memiliki 3 anak. Padahal kalau boleh memilih, aku
sih pingin punya anak lagi dengan impian anak keempatku adalah seorang anak
perempuan yang sama dengan kakaknya yang sulung sehingga aku mempunyai 2 pasang
anak laki-laki dan perempuan.
Namun suamiku bersikeras tidak ingin memiliki anak lagi karena dia merasa sudah tua dan beralibi takut tidak bisa maksimal dalam memberikan anak anaknya pendidikan dan kehidupan yang layak, aku yang berusaha merayunya berulang-ulang ingin memilki anak lagi tetap ditolaknya mentah-mentah. Akhirnya akupun menyerah dan tetap mensyukuri karunia anak yang sudah Tuhan titipkan padaku. Apalagi suamiku selalu berkata gak usah banyak banyak punya anak, yang ada sekarang ini saja lah yang harus kita maksimalkan pengasuhan dan pendidikannya agar kelak menjadi anak anak heybat yang sukses dunia akhirat.
“Umik...Umik belum jawab pertanyaan adek, ayo umik jawab mik,” cerocos Raihan lagi. Akupun menaruh HP ku lalu mengubah posisi dudukku yang
tadinya diatas sofa turun ke karpet mendekati Raihan yang sedang asyik dengan
mainan tobotnya.
Raihan yang sadar dengan pergerakanku yang mendekati dirinya menatap ke mataku sambil menunggu jawabanku dengan penuh harap. Hmmm...dari sorot matanya yang nampak penasaran ternyata nih anak serius juga ya menunggu jawabanku, gumamku dalam hati.
Akupun langsung memegang kedua pipinya dan beradu tatap dengan matanya sambil menjawab “Listen! umik suka sama bapak, karena bapak ganteng dan baik,” ujarku dengan ceria dan penuh percaya diri. Namun tiba-tiba dia langsung mencucu sambil berkata, “ menurutku bapak gak ganteng dan juga gak baik,” cerocosnya.
“Lho koq bisa?” jawabku kaget “ kenapa adek koq bicara seperti itu?” selidikku lagi. “Bapak itu hitam dan suka marah mik,” ujarnya.
Aku mengerutkan alisku
sambil bertanya, “emangnya orang ganteng itu yang seperti apa menurut adek?”.
“Orang ganteng itu yang putih mik seperti artis,” jawab Raihan sambil menunjuk
ke arah TV yang kebetulan sedang bersliwer iklan pasta gigi yang diperankan
oleh cowok putih yang ganteng. “Hmm...begitukah? Terus anak umik yang pinter
ini ganteng apa tidak? Coba umik lihat kulitnya putih apa hitam yaa?” ujarku
menggodanya. Raihan cemberut menanggapi pertanyaanku sambil berkata dengan
ketus, “Adek ganteng mik meski kulit adek hitam tapi adek ganteng.” “Ya iyalah
tentu adek ganteng karena bapaknya ganteng,” paksaku mengulangi lagi
pernyataanku bahwa aku menyukai bapaknya karena
ganteng.
Walau konteksnya maksa
sih karena pada kenyataannya suamiku memang hitam dan masih terlalu jauh dari
ukuran kata ganteng, namun kalo mau maksa dikit ya adalah manis-manisnya
walaupun tak semanis madu. Kata orang sih yang baru pertama kali melihat aku
dan suamiku mereka mengira kami ini pasangan jamaah, awalnya aku juga bingung
dengan julukan itu, apa maksud pasangan jamaah itu, lalu aku menanyakan ke
temanku yang pernah menyeletukkan itu kepadaku dia menjawab pasangan jamaah itu
keturunan Arab, yek, sarifah atau timur tengah lah. Senyata secara kasat mata
hidung kami berdua tergolong hidung yang mancung yang katanya sih mirip orang
Arab, suamiku juga tinggi dan kurus namun, warna kulit kami berdua untuk ukuran
kulit orang Indonesia yang katanya sawo matang ternyata tidak berlaku karena
pada kenyataannya kulit kami berdua bukan seperti sawo matangnya namun lebih
mengarah pada biji sawonya, ya kulit kami seperti biji sawo alias hitam.
Dan ternyata karena warna kulit yang gelap inilah yang akhirnya menyimpulkan anakku bahwa bapaknya tidak masuk kategori ganteng. Lalu aku bertanya, “adek, umik ini cantik apa tidak ya?”
“Umik cantik lah,” jawab Raihan dengan antusias. “ Lho koq bisa? Padahal umik juga kulitnya hitam? Kata adek kalo kulitnya hitam gak ganteng, berarti umik juga gak cantik lah.”
“Umik cantik karena umik baik,” ucap Raihan. “Lho emangnya kenapa sama adek koq bapak dibilang gak baik? Padahal
bapak selalu ada buat adek, yang buatin adek susu kalo umik lagi repot, yang
mandiin dan suapin adek kalo sedang makan, dan kalo malam selalu kelonin adek,
kenapa adek masih bilang bapak gak baik?” tanyaku lagi.
Oia karena kesibukanku dan
karena rasa pengertian suamiku yang selalu siaga dan tidak gengsi berbagi tugas
selagi dia mampu, maka dia akan membantuku untuk menghandle hal-hal yang
berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga kami. Senyata aku wanita karir
beranak 3 yang lebih banyak menghabiskan waktuku di tempat kerja, berangkat
pagi pulang sore. Pekerjaan rumah akan terasa makin berat karena memang kami
tidak mempunyai asisten rumah tangga, namun suamiku yang berwiraswasta dan
lebih banyak mempunyai waktu luang dirumah tidak pernah segan untuk membantuku
dalam menyelesaikan pekerjaan pekerjaanku selama dia mampu baik itu pekerjaan
di tempat kerjaku maupun pekerjaan rumah tanggaku seperti memasak, mencuci,
menyapu, mengepel bahkan dalam hal pengasuhan ketiga buah hati kami. Aku sangat
bersyukur mempunyai suami seperti dia.
“Bapak nakal, bapak jahat, bapak gak baik karena bapak gak mau turutin adek tadi,” ucapnya dengan marah. “Lho kenapa adek koq marah? Emangnya bapak gak nurutin apa ke adek?” tanyaku penasaran. “Bapak gak mau belikan adek kelinci, padahal adek pingin punya kelinci, adek suka kelinci!” teriaknya sembari mulai menangis.
Suamiku yang kebetulan tadi sudah pergi keluar karena mau membeli baterai baru untuk memperbaiki mainan pesawatnya yang rusak memang belum cerita apapun tentang kejadian tadi siang. “Memangnya ada orang jual kelinci disekolah adek?” tanyaku lagi.
“Bukan disekolah mik, tapi adek tadi lihat ada orang jual kelinci di pinggir jalan, dan teman teman adek banyak yang beli, adek juga ingin beli, tapi sama bapak gak dibelikan,” teriaknya lagi sambil emosi.
"Oh, I see,” gumamku dalam hati.
Ketika aku mulai paham dengan alur pertanyaan Raihan rupanya dia masih marah dengan kejadian tadi siang karena bapaknya tidak membelikannya kelinci. Dan aku tahu alasannya kenapa suamiku tidak membelikannya meskipun anak kesayangannya ini menangis dan merajuk minta dibelikan hewan jinak yang lucu itu.
Ya, sampai kapanpun suami pasti tidak akan membelikannya. Kelinci, kucing, anjing, hamster adalah salah satu jenis jenis binatang peliharaan yang lucu yang bisa di pelihara dan bersahabat bagi anak anak, namun tentu saja tidak bagi suamiku karena dia sangat geli, alergi bahkan fobia dengan binatang berbulu halus itu.
Kalau aku boleh bilang fobianya mungkin sama dengan fobiaku terhadap ulat bulu, jadi jangankan mendekat melihatnya dari kejauhan aja aku sudah jingkrak jingkrak ketakutan jadi aku tidak bisa memaksanya untuk membelikan apa yang dimau Raihan. Karena kalaupun nantinya memaksa beli pasti akan kesulitan dalam hal perawatannya sehari hari dan aku yakin suamiku tidak akan turun tangan untuk urusan ini, yang ada malah nanti aku yang harus menghandlenya dan untuk sekarang tentu saja aku belum siap karena aktivitasku yang padat kuatir membuat binatang peliharaan terlantar karena tidak terurus dengan baik. Tak berapa lama suamikupun datang dari toko dan kuceritakan kepadanya jika si bontot nya sedang kesal kepadanya.
Akhirnya dengan lembut dia usap kepalanya sambil berkata, “Adek, bagaimana kalau kita beli ikan dan akuarium saja? Ikan lebih bagus lho, berwarna warni lagi, kita pun tidak susah dalam memeliharanya karena cukup diberi makan makanan ikan instan, kalau kelinci nanti umik kesulitan karena harus kepasar setiap hari untuk beli wortel dan kangkung.”
“Ya udah aku mau pelihara ikan tapi harus beli sekarang pak!” ujarnya. “Hello sayang, ini sudah malam tidak ada orang jual ikan malam-malam,” jawab suamiku. “Terus kapan belinya?” tanya Raihan kecewa.
“Besok sayang, besok kan hari libur, jadi besok kita beli ikan dan akuarium bersama sama”, jawab suamiku. Raihan langsung melompat kearah suamiku dan menciumnya sambil berkata “I Love You, bapak”. Akupun ikut lega melihatnya.
Aah... ternyata sepolos
dan semudah itu anak kecil mengekspresikan hatinya. Saat senang, sedih, kecewa
dan marah semuanya terlontar begitu saja. Sedangkan kita orang tua harus
melayani, mengarahkan dan mendidiknya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang
yang tak terhingga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar